Pagi tadi, tempat kost yang biasanya tenang dan nyaman tiba-tiba dirusak reputasinya dengan kabar dari teman yang membangunkan saya dari tidur. HP, BB dan dompetnya 'disimpen' maling yang sengaja lewat pintu depan. Ini rekor! Sejarah tempat kost saya itu tak pernah sekalipun dimasuki orang tanpa permisi. Jangankan barang - barang kecil seperti itu, motor diparkir 24jam di depan pintu ruang tamupun tak pernah hilang. Meskipun tempat parkir ada pagar tembok setinggi dada dan ada pintu besi yang itupun juga tak pernah terkunci.
Saya cuma berdua, yang lain bermalam di kampus. Maklum, seisi kost yang hanya berempat semuanya aktif di organisasi kesenian meskipun dua orang dari kami sudah alumni . Saya dan teman saya,wawan. Jadi bikin gempar para tetangga juga akhirnya. Kamipun berinisiatif pergi ke 'orang pintar'. Yaaaahhh meskipun kami berdua mantan mahasiswa, sulit untuk menghilangkan budaya khas orang Indonesia ini.
Setengah jam kemudian, kami sudah sampai ke tempat yang kami tuju. Memang tak terlalu jauh. Setelah mengucap salam kami langsung masuk ke dalam ruangan yang memang sudah disiapkan untuk para tamu yang datang. Seketika aroma dupa menusuk hidung. Meskipun ini adalah kediaman seorang putra Kyai, tapi nuansa Jawa yang ditebarkan lewat dupa membaur dengan ke Arab-annya. Ah, entahlah. Saya tak ingin memperdebatkan meskipun cuma dalam hati mengenai itu. Tujuan kami hanya mencari petunjuk yang sebenarnya antara percaya dan tidak terhadap hal diluar nalar tersebut.
Orangnya kurus, tak begitu tinggi dan berambut lurus gondrong dihiasi lingkaran surban. Gus, demikian orang-orang biasa memanggilnya. Suaranya lantang, tapi enak ditelinga. Suka bercanda dan santai orangnya. "ada keperluan apa ini Mas Rendra, kita ketemu lagi ya. Alhamdulillaah...",katanya. Ya, saya sudah tiga kali bertemu dengan tujuan yang berbeda sebelumnya. Dia juga memiliki kemampuan menyembuhkan si sakit. Saya langsung utarakan maksud kedatangan saya. Beliau bercerita sedikit tentang hal lain sebelum menjawab masalah saya dan teman saya. Tak lama, dia langsung ke inti persoalan dengan menyebutkan ciri-ciri orang yang ngringkesi barang-barang teman saya itu. Kami diberi beberapa nasehat untuk selalu berhati-hati. Meskipun setengah puas (karena memang jarang ada "orang pinter' yang langsung sebut nama) kamipun pamit. Sampai saya menulis inipun masih tak menemukan jawabannya.
Akhirnya saya berpikir, lain kali tak usahlah pake hal-hal semacam ini. lebih baik diikhlaskan. Kecuali untuk meminta bantuan do'a, itu bolehlah. Gus itu pula yang sudah membuka hati saya untuk kembali bersujud pada Sang Esa. Makanya, untuk hal selain urusan vertikal dengan Tuhan saya tak akan lagi pakai cara itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar