Mengeja semesta alam, begitu kalau boleh meminjam istilah Mas Yusuf Ilham a.k.a mbah pardjan. Mungkin istilah itu muncul setelah diskusi panjang dengan beberapa teman yang kebetulan salah satunya berprofesi sebagai seorang ilmuwan yang sudah banyak menjelajah peta dunia. Baik mengajar atau entah apapun yang dilakukannya.
Awalnya pede berbicara segala hal, nyatanya obrolan kami tersebut membuka mata saya akan masih banyaknya perihal alam semesta dan misterinya yang belum saya tau. Meski mencoba berbicara berbasis ke'iman'an, banyak jawaban secara scientist 'mendobrak' apa-apa yang secara tersirat disebutkan dalam kitab suci manapun. bingung? pasti...!!! karena terbiasa dengan pandangan kacamata kuda yang terlebih dahulu 'dipaksa' masuk setelah 30th. takut? bisa iya bisa tidak... karena saya masih diberi teman berbincang berdiskusi berdebat yang pada akhirnya menemukan jawaban-jawaban yang setidaknya menghindarkan kami semua condong 'meniadakan Tuhan.
Kalau anda ditanya, benarkah Tuhan itu ada? apa dasarnya? ya pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membingungkan kami semua. Karena tidak pernah sekalipun kami benar-benar mencoba mencari Tuhan. tak bisa secara sains membuktikannya dengan data-data. hanya dari faktor iman...titik...!!! Tidak pernah secara spesifik 'menggambarkan' wajah/bentuk Tuhan,karena memang tak seorangpun yang bisa terasuk para saintis manapun baik yang beragama apalagi yang tidak.
seorang tua berjenggot putih membawa tongkat yang punggungnya bungkuk? pernahkah anda membayangkannya sewaktu kanak-kanak? Atau seperti sekumpulan kepulan asap yang tak berbentuk? bagaimana? saya yakin tak seorangpun akan bisa betul-betul mendefinisikan Tuhan. Tapi saya yakin betul-betul ada. Haq dia ada.
Mungkin dalam postingan saya selanjutnya akan saya coba mencurahkannya meskipun seperti comelan si gila bernama fulan bin fulan.....
condong
Senin, 29 April 2013
Jumat, 20 Januari 2012
DILEMA
Hari masih pagi ketika kau bangunkan aku lewat ponsel. Kukira si Bulan yang rajin menjelma jam weker setiap pagi. Ah, ternyata kau masih bisa mengingatku juga setelah sekian lama, pikirku. Wajah tembam berambut ombak dan seutas senyum milikmu sekilas hampir membuatku jatuh cinta lagi kalau saja tak kuingat apa yang pernah kau lakukan.
Aku tak ingat lagi sudah berapa tahun setelah kejadian itu. Ya, memang sudah benar-benar kulupakan termasuk tahi lalat kecil di dekat tulang belikatmu. Termasuk perasaan indah dan hangat saat kau berangus bibirku ketika nafsu membawamu keatas titik syahwat yang mau tak mau akupun larut bersamanya.
Sayang, sudah kubilang jangan kau cari lagi aku setelah dirimu kau kotori dengan air mani Laki-laki lain. Sudah kubilang jangan rayu aku lagi lewat lembutnya suaramu yang bagiku terdengar seperti ringkik kuda kedinginan. Sekali dua kali aku masih bisa menerimamu menyandarkan kepalamu dengan air mata penuh penyesalan yang membuat kaus jogerku seperti handuk. Tapi tidak untuk yang ini. Tidak, ketika tulang remuk redam menuruti hasrat ibu bapakmu yang kepengen Laki-laki berkendara Pajero kau malah menusukkan sebuah nama selain namaku.
Indah itu tak hanya cukup diranjang sayang. Ketika embun-embun pagi mencoba mengirimkan surat kabar berita dunia, bukankah akan lebih indah jika kita baca bersama sambil mencecap secangkir teh di teras rumah? ya, hanya secangkir teh. Bukan obrolan teknologi Blackberry atau ramainya Twitter yang sibuk bergunjing.
Sudah ya sayang. Tutup saja telponmu. Hubungi aku ketika kau sudah paham bahasa merpati. Siapa sangka kalau waktu itu telah tiba aku masih sendiri. Sudah. Daripada aku jatuh cinta lebih dalam lagi. aku tak yakin akan mampu menolak lagi.
(Mencoba menulis fiksi...hehehe)
Senin, 09 Januari 2012
Untuk Emak
Emak,
cukup kau keluarkan air mata itu
aku tak ingin melihatnya berangsur semerah darah
sayap ini masih mampu menjejak angkasa luas
aku masih juga terbang bersama si Alap-alap
besok kubawakan cinta
masih seperti dulu meskipun tak sebesar cintamu
aku masih anakmu yang pernah ngompol waktu kau gendong
sama seperti waktu nangis karena lapar
tidak,
tak akan kuserahkan hidupku pada facebook, twitter atau google
tak perlu iri pada hebohnya dunia karena ari-ariku masih tertanam di halaman depan rumah
aku aman bersama malaikat wujud do'amu
cukup kau keluarkan air mata itu
aku tak ingin melihatnya berangsur semerah darah
sayap ini masih mampu menjejak angkasa luas
aku masih juga terbang bersama si Alap-alap
besok kubawakan cinta
masih seperti dulu meskipun tak sebesar cintamu
aku masih anakmu yang pernah ngompol waktu kau gendong
sama seperti waktu nangis karena lapar
tidak,
tak akan kuserahkan hidupku pada facebook, twitter atau google
tak perlu iri pada hebohnya dunia karena ari-ariku masih tertanam di halaman depan rumah
aku aman bersama malaikat wujud do'amu
Langganan:
Postingan (Atom)