Jumat, 20 Januari 2012

DILEMA

Hari masih pagi ketika kau bangunkan aku lewat ponsel. Kukira si Bulan yang rajin menjelma jam weker setiap pagi. Ah, ternyata kau masih bisa mengingatku juga setelah sekian lama, pikirku. Wajah tembam berambut ombak dan seutas senyum milikmu sekilas hampir membuatku jatuh cinta lagi kalau saja tak kuingat apa yang pernah kau lakukan.
Aku tak ingat lagi sudah berapa tahun setelah kejadian itu. Ya, memang sudah benar-benar kulupakan termasuk tahi lalat kecil di dekat tulang belikatmu. Termasuk perasaan indah dan hangat saat kau berangus bibirku ketika nafsu membawamu keatas titik syahwat yang mau tak mau akupun larut bersamanya.
Sayang, sudah kubilang jangan kau cari lagi aku setelah dirimu kau kotori dengan air mani Laki-laki lain. Sudah kubilang jangan rayu aku lagi lewat lembutnya suaramu yang bagiku terdengar seperti ringkik kuda kedinginan. Sekali dua kali aku masih bisa menerimamu menyandarkan kepalamu dengan air mata penuh penyesalan yang membuat kaus jogerku seperti handuk. Tapi tidak untuk yang ini. Tidak, ketika tulang remuk redam menuruti hasrat ibu bapakmu yang kepengen Laki-laki berkendara Pajero kau malah menusukkan sebuah nama selain namaku.
Indah itu tak hanya cukup diranjang sayang. Ketika embun-embun pagi mencoba mengirimkan surat kabar berita dunia, bukankah akan lebih indah jika kita baca bersama sambil mencecap secangkir teh di teras rumah? ya, hanya secangkir teh. Bukan obrolan teknologi Blackberry atau ramainya Twitter yang sibuk bergunjing.
Sudah ya sayang. Tutup saja telponmu. Hubungi aku ketika kau sudah paham bahasa merpati. Siapa sangka kalau waktu itu telah tiba aku masih sendiri. Sudah. Daripada aku jatuh cinta lebih dalam lagi. aku tak yakin akan mampu menolak lagi.

(Mencoba menulis fiksi...hehehe)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar